Seniman (Pelukis) “Medan” Malas, Benarkah?!

Posted: 30 Juli 2012 in berita seni
Tag:, , , ,

Benarkah? Menurut Franky Pandana yang dikenal sebagai kolektor karya seni, kelemahan seniman Medan adalah malas???

Pernyataannya ini diungkapkan di situs Indonesia Art News yang anggotanya lebih dari 8.000 orang. Pernyataan Franky tentu tidak asal saja, sebagai kolektor seni di Medan pasti telah melakukan pengamatan, sehingga sampai pada kesimpulan seperti itu. Apalagi pernyataannya diungkapkan dan dipublikasikan di forum yang banyak diperhatikan oleh para pecinta seni dari seluruh penjuru Indonesia. Artikel yang memuat pernyataannya itu, ditulis oleh Syahrizal Pahlevi, seorang seniman grafis dari Yogyakarta. Artikel berjudul “Kelemahan Seniman Medan Adalah Malas” cukup mengejutkan, pemilihan kata pada judul artikel sangat profokatif. Artikel yang ditulis dengan gaya dialog antara Syahrizal dengan kolektor seni Medan tersebut diunggah ke situs Indonesia Art News pada hari Sabtu, 30 Juni 2012.

Pernyataan Franky tentang seniman Medan dengan pemilihan kata yang cukup berani mengundang reaksi sejumlah seniman Medan. Budhy Giantama (nama aslinya Budi Siagian) ketua Simpassri (Simpaian Seniman Seni Rupa Indonesia) di Medan menilai, pernyataan Franky kurang tepat. Menurutnya, Franky terburu-buru membuat kesimpulan, pernyataannya, kurang didasari oleh pemahaman yang menyeluruh tentang seniman Medan. Menurut Budhy, seniman Medan bekerja secara profesional. Mereka hidup semata-mata dari berkarya, mereka tekun menciptakan lukisan. Sebagian besar seniman profesional Medan cukup kreatif dan produktif dalam berkarya. Jika ada satu atau dua pelukis yang tidak produktif, bukan berarti semua seniman Medan malas. Menurutnya tidak banyak seniman Medan yang tidak aktif berkarya, hanya satu dua saja. Mungkin sedang mengalami kejenuhan. Menanggapi pernyataan Franky, Budhy selaku ketua Simpassri yang anggotanya lebih dari 30 pelukis Medan berencana menyelenggaraan diskusi. Menurutnya, seniman Medan harus terbiasa dengan diskusi agar semakin luas wawasan keseniannya. Diskusi membahas penilaian Franky agar para seniman Medan terbiasa berdialog dan saling memperkaya pemikiran. Budhy berpendapat, masalah ini bisa dijadikan momentum untuk menggelorakan semangat berkesenian di Medan. Barangkali pemilihan kata “Malas” dapat membuat pelukis Medan terperanjat, namun harus dilihat dari sisi baiknya. Pernyataan tersebut dapat menjadikan para pelukis Medan instrospeksi dan semakin kreatif dan produktif dalam berkarya.

Pemilihan kata “malas” untuk menjuluki seniman Medan memang terasa kurang tepat. Kesannya seperti memberi stigma negatif kepada seniman Medan. Seniman Medan sesungguhnya tidak malas. Logikanya sederhana. Jika seorang seniman profesional malas, dia tidak akan mampu bertahan hidup. Seniman profesional dituntut kreatif dan produktif menciptakan karya seni agar mampu bertahan hidup. Faktanya, seniman profesional Medan mampu bertahan hidup dan menghidupi keluarganya. Beberapa di antara mereka bahkan cukup sukses secara ekonomi, hal itu tentu tidak mungkin dicapai jika mereka malas. Handono Hadi, pelukis profesional Medan yang termasuk sukses, dia bisa memiliki rumah bagus dan mobil yang cukup mewah. Pelukis profesional lainnya, Andi Ian Surya juga cukup berhasil secara ekonomi. Andi memiliki studio dan galeri di sejumlah tempat. Andi mampu menyekolahkan anak-anaknya, hingga jenjang perguruan tinggi. Hardiman Wisesa juga termasuk pelukis yang berhasil dari segi ekonomi, dia tinggal di lingkungan yang cukup elit. Demikian pula pelukis Yatim Mustofa, dia mendirikan sanggar Rowo secara mandiri dan berhasil mendidik sejumlah pelukis muda Medan menjadi pelukis profesional. Dia berhasil memandirikan banyak orang, tanpa meminta bantuan pada pemerintah. Jika kreativitas dan produktivitas pelukis diukur dari kesuksesan ekonomi, cukup banyak pelukis Medan yang sukses secara ekonomi. Konklusi mereka tidak malas. Kalau masih ada yang belum sukses secara ekonomi, itu bukan indikasi seniman Medan semua malas. Seniman Medan bukanlah pemalas, mereka hanya kurang dikenal, karena jarang ditulis dan dipublikasikan. Pernahkan TVRI Medan (Sumatera Utara) menayangkan profil para pelukis Medan? Menayangkan proses kreatif mereka sebagai seniman dan bagaimana mereka hidup? Berapa banyakkah media cetak yang memberi ruang untuk menampilkan profil seniman Medan dan karyanya? Seniman (pelukis) Medan meskipun otodidak, karya mereka dapat diandalkan, teknik melukis mereka berkualitas bagus dan karya mereka layak untuk dipublikasikan. Seniman Medan bisa menjadi kebanggaan warga kota, mereka pencipta keindahan dan membuat kehidupan lebih bermartabat. Keberadaan pelukis di suatu kota menambah nilai lebih pada kota tersebut. Keberadaan mereka juga bisa menarik wisatawan untuk berkunjung. Pemerintah kota Medan sebenarnya berhutang budi pada para pelukis Medan. Seniman (pelukis) Medan hanya kurang dikenal karena tidak didukung oleh kebijakan pemerintah daerahnya. Event-event pameran lukisan yang mengangkat nama mereka tidak pernah diselenggarakan. Bisa dikatakan keberadaan pemerintah daerah tidak dirasakan oleh para pelukis Medan. Para pelukis Medan selama ini berkarya mandiri. Ada atau tidak ada dukungan pemerintah daerah tidak mereka pikirkan, mereka terus berkarya. Pelukis Medan tidak akan meminta-minta pada pemerintah supaya mereka dipublikasikan dalam bentuk buku. Pelukis Medan tidak perduli nama mereka tidak ditulis dalam sejarah senirupa Indonesia, karena tidak ada yang menulis mereka. Bagi mereka yang penting adalah terus berkarya agar dapat hidup layak dan menghidupi keluarganya.

Ada baiknya penilaian Franky ditanggapi secara positif. Pernyataannya mampu mengguncang dan telah menjadi titik pusat perhatian para seniman (pelukis) Medan. Mereka tergugah dan sangat antusias untuk menanggapinya. Perlu diskusi yang melibatkan semua unsur komunitas seniman Medan. Perlu dibuka ruang diskusi, agar masalah ini bernilai positif bagi semuanya. Perlu diskusi menyeluruh yang tidak hanya melibatkan anggota Simpassri saja, tetapi juga komunitas seniman lainnya yang ada di Medan. Seperti IKAISI (Ikatan Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta di Medan) dan komunitas seniman JPSR FBS Unimed (Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan). Dengan demikian, berbagai pandangan akan memperluas cakrawala pemikiran. Untuk membuktikan bahwa stigma seniman (pelukis) Medan malas itu tidak tepat sekaligus tidak benar. Kontribusi terbaik yang bisa diberikan Franky sebagai kolektor seni, barangkali bukan hanya memberi stigma bahwa seniman (pelukis) Medan malas. Melainkan mengangkat mereka dengan cara mengoleksi karya-karyanya. Perlu adanya kolektor yang berani mengangkat karya para pelukis Medan.

Kalau Franky selama ini mau mengoleksi karya pelukis Yogyakarta, mengapa tidak mencoba mengoleksi karya pelukis Medan saja?

komentar sobat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s